Rabu, 03 Oktober 2012

Transmisi Budaya dan Biologis Serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan

Transmisi Budaya 

1. Enkulturasi 
Proses penerusan dan kebudayaan transmsi dari generasi ke generasi selama hidup seseorang individu dimulai dari keluaraga terutama ibu. enkulturasi mengacu pada proses dimana kultur di perabaiki melalui kontak atau pemaparan langasung dengan kultur lain. kultur di transmisikan melalui proses belajar bukan dengan gen atau pun keturunan. Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu bergerak dinamis mengikuti perkembangan jaman. Sebaliknya sebuah masyarakat yang cenderung sulit menerima hal hal baru dalam masyarakat sulit mempertahankan budaya lama yang sudah tidak relevan lagi untuk disebut sebagai akulturasi.

2. Akulturasi 

Akulturasi adalah proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur kebudayan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnnya kebudayaan itu sendiri. pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. sebaliknya generasi tua dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru. hal ini disebabkan karena norma-norama yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiwai. suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi selalu adakelomok individu-individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi . proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat menghasilkan integrasi antara unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. 


3. Sosialisasi 
Sosialisasi proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. 
Menurut Charles H Cooley menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Konsep Diri seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.
1. Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.
Seseorang merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita. 
Seseorang membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.
3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.

Awal Perkembangan dan Pengasuhan 

Hubungan dengan orang tua atau pengasuh nya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial anak. sejumlah ahli mempercayai bahwa kasih sayang orang tua atau pengasuh selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan kunci utama perkembangan sosial anak, meningkatkan kemungkinan anak memiliki kompetensi secara sosial, dan penyesuaian diri yang baik pada tahun-tahun prasekolah dan setealahnya. salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak ialah gaya pengasuhan yang yang diterapkan oleh orang tua. menurut Diana Baumrind, 1972 dalam Lerner & Hultsch, menerapkan tiga tipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam tingkah laku sosialanak yaitu otoritatif, otoriter, dan permisif. 
- Pengasuhan otoritatif : gaya pengasuhan yang memerlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak, tetapi mereka juga bersifat responsif, menghargai, dan menghomati pemikiran , perasaan serta mengikutsertakan anak dala pengambilan keputusan. anak-anak prasekolah dari orang tua yang otoritatif cenderung lebih percaya diri sendiri, pengawasan diri sendiri dan mampu bergaul baik dengan teman sebaya nya. 
- Pengasuhan otoriter : gaya pengasuhan yang membtasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah orang tua. orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengungkapkan pendapat. orang tua otoriter juga cenderung berd=sikap sewenang-wenang dan tidak demokratis dalam membuat keputusan, memaksakan peran-peran atau pandangan kepada anak atas dasar kemampuan dan kekuasaan sendiri, serta kurang menghagai pemikiran dan perasaan mereka.
- Pengasuhan Permisif : dibedakan dalam dua bentuk pertama pengasuhan permisif indulgent suatu gaya pengasuhan dimana orangtua sangat terlibat dalam kehidupan anak, tetapi menetapakan sedikit batas atau kendali atas mereka kurang nya kenadali terhadap anak melakukan apa saja yang mereka inginkan. kedua, pengasuhan permisif indifferent suatu gaya pengasuhan dimana orang tua sangat tidak terlibat sama sekali dalam kehidupan anak. anak-anak dalam pengasuhan ini cenderung kurang percaya diri, pengendalian diri yang buruk dan rasa harga diri yang rendah.   



Sumber: http://id.shvoong.com/law-and-politics/family-law/2245698-enkulturasi-dan-akulturasi/#ixzz28DQ8J0m2

Sosiologi suatu pengantar Soerjono Soekanto 
Psikologi Perkembangan Yudrik Jahja 

Selasa, 02 Oktober 2012

Pengertian dan Tujuan Psikologi Lintas Budaya

Pengertian Psikologi lintas budaya persamaan dan perbedaan dalam diri idividu secara psikologis , dalam berbagai budaya dan kelompok etnik yang ada dalam kehidupan masyarakat. mengenai hubungan-hubungan psikologi dan sosial budaya, ekologis, dan biologis. psikologi lintas budaya membantu mempelajari peran sosial budaya , emosi , pikiran dan perilaku. 

Menurut Segall, Dasen, Poortinga psikologi lintas budaya perilaku manusia dan penyebarannya memperhitungkan cara perilaku itu di bentuk dan di pengaruhi oleh kekuatan sosial budaya. 

Menurut Triandis, Malpass, dan Davidson  psikologi lintas budaya pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal.

Menurut A.Matsumoto : psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal

Tujuan Psikologi Lintas Budaya 

membangunan pengetahuan tentang manusia dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh bagi kepentingan kehidupan manusia. Ahli psikologi berupaya memahami perilaku tertentu manusia dari berbagai sudut pandang seperti kapan biasanya terjadinya perilaku tersebut, mengapa itu bisa terjadi dan memprediksi bentuk perilaku yang akan terjadi. Dalam hal ini terdapat dua aspek penting dalam mencapai tujuan pertama psikologi yaitu melakukan riset psikologi dan menciptakan model teoretik perilaku.

Menurut Berry dan Dassen menjelajahi budaya lain untuk menemukan variasi psikologis yang tidak di jumpai dalam pengalaman budaya seseorang yang memang terbatas. mengintegrasikan hasil-hasil yang diakui ke dalam sebuah psikologi berwawasan luas ketika tujuan pertama dan kedua tercapai. tujuan membawa dan meguji psikolog berusaha membawa hipotesis dan temuan mereka ke lingkungan budaya lain untuk menguji daya dalam terapannya dalam kelompok manusia lain. 

Hubungan antara Psikologi Lintas Budaya dengan disiplin ilmu lain 



1. Psikologi Lintas Budaya dengan Antropolgi  Psikologi lintas-budaya dan antropologi sering tumpang tindih, baik disiplin cenderung memfokuskan pada aspek yang berbeda dari suatu budaya. Sebagai contoh, banyak masalah yang menarik bagi psikolog yang tidak ditangani oleh antropolog, yang memiliki masalah mereka sendiri secara tradisional, termasuk topik-topik seperti kekerabatan, distribusi tanah, dan ritual. Ketika antropolog melakukan berkonsentrasi pada bidang psikologi, mereka fokus pada kegiatan dimana data dapat dikumpulkan melalui pengamatan langsung, seperti usia anak-anak di sapih atau praktek pengasuhan anak. Namun, tidak ada tubuh yang signifikan data antropologi pada banyak pertanyaan yang lebih abstrak sering ditangani oleh psikolog. 


2. Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Sosiologi  Soerjono Soekamto, Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola umum kehidupan masyarakat. hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Sosiologi adalah sama-sama mempelajari mengenai fungsi individu dalam masyarakat serta mempelajari budaya dan kelompok etnik yang berada dalam masyarakat, hanya saja psikologi lintas budaya lebih kepada bidang psikologisnya.



3. Psikologi lintas budaya dengan Kepribadian. konsep dasar psikologi yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Kepribadian mempengaruhi dan menjadi kerangka acuan dari pola pikir dan perilaku manusia, serta bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih nesar, yaitu budaya sebagai konstruk sosial. 


4. Hubungan antara psikologi lintas budaya dengan ekologi yaitu ekologi mempelajari mengenai interaksi yang baik dengan makhluk hidup maupun lingkungan yang aneka ragam.


sumber :